Gerakan Mahasiswa di Sejumlah Daerah Semakin Meluas

784
Aksi unjukrasa Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB). (ist)

JAKARTA (Lumennews.id) – Gerakan mahasiswa dari sejumlah universitas semakin meluas. Aksi tersebut merupakan bentuk ketidakpuasan dari para kaum intelektual kepada pemerintah akibat kondisi ekonomi yang disebabkan anjloknya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar.

Seperti aksi unjuk rasa yang dimobilisasi oleh ratusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung (UNILA), Selasa tanggal 4 September 2018. Dimana aksi tersebut luput dari peliputan media massa. Massa menuntut  agar Presiden Joko Widodo bertanggungjawab atas carut marutnya kondisi ekonomi negara pada saat ini.

Bahkan, dalam kesempatan tersebut,  barisan mahasiswa menghadang Menko Bidang Maritim Luhut Binsar Panjaitan yang sedang melakukan kunjungan ke Bandar Lampung. Mahasiswa membentuk blokade jalan sehingga menutup sebagian jalan menuju ke arah Bandar Lampung.

Presiden BEM Unila, Muhammad Fauzul Adzim mengatakan saat ini negara sudah kehilangan wibawa perekonomian. Nilai tukar Dollar hingga Rp14.800 merupakan yang tertinggi dari krisis tahun 1998. Ironisnya kata Fauzul, pemerintah berniat melakukan penawaran kepada pihak asing untuk menjalankan sejumlah proyek di Indonesia.

“Kami menginginkan pemerintah pusat tidak menjual proyek-proyek kepada pihak asing, untuk itu kami tantang Luhut Binsar Panjaitan untuk membahas proyek-proyek yang dilempar ke pihak asing, saya membaca ada 15 proyek di Indonesia dilempar ke China,” kata Fauzul.

Masih kata Fauzul, penolakan ini terhadap proyek-proyek ini diharap pihak asing lantaran rakyat Indonesia bisa dimungkinkan tidak akan berdaulat secara ekonomi dan politik.

“Kalau yang mengelola proyek itu pihak asing, sudah dipastikan Indonesia sedang kehilangan wibawa,” seru Fauzul.

Seruan aksi juga dengan lantang disampaikan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Pertanian Bogor (IPB). Aliansi Mahasiswa Jambi menggelar aksi unjuk rasa untuk mengkritisi kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden Jokowi. Aksi yang dilakukan di gedung DPRD Jambi itu guna mendesak Jokowi turun dari kursi kepemimpinannya.

Di ujung Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Gowa Raya juga menggelar aksi unjuk rasa untuk meminta Jokowi mundur pada hari Rabu tanggal 12 September 2018. Para mahasiswa menutup salah satu ruas jalan di Sultan Alauddin yang mengarah ke Jalan AP Pettarani. Hal itu sempat terjadi aksi saling dorong antara demonstran dan aparat kepolisian.

Sesuai dengan unjuk rasa mahasiswa HMI Cabang Gowa Raya, mereka menuntut normalisasi rupiah agar tidak di injak-injak oleh dollar Amerika Serikat.

Kemudian menuntut agar diturunkannya Jokowi sebagai presiden, karena tidak mampu mengatur stabilitas negara. Lalu stabilkan perekonomian rakyat dan tingkatkan kesejahteraan rakyat. Dan mereka juga menuntut agar Kapolrestabes Makassar segera dicopot, dikarenakan tidak mampu mengontrol anggotanya yang melakukan tindakan refresif.

Selain itu, aksi mahasiswa juga akan digelar oleh Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa/Dewan Eksekutif Mahasiswa, yang dinaungi Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguran Tinggi Agama Islam se-Indonesia dan aliansi Mahasiswa Primordial se-Jabodetabek, hari ini.

Aliansi mahasiswa mengajak seluruh teman-teman mahasiswa agar merapatkan barisan untuk menyuarakan kebenaran yang sengaja dibungkam oleh pemerintah atau penguasa saat ini.

Korlap Aksi, Dewi Nabilla mengatakan, melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap  dollar menjadi keprihatinan terhadap kondisi bangsa hari ini. Ditambah lagi dengan pernyataan Menteri Agama yang dengan lantang mengatakan untuk mengurangi volume suara adzan.

Titik kumpul aksi tersebut akan digelar di Gedung Menpora longmarch ke Senayan Gedung DPR. Massa aksi direncanakan akan menggunakan almamater masing-masing. (zal)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here