Gunung Kidul Waspadai Tanah Ambles

58

GUNUNG KIDUL (Lumennews.id) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengantisipasi fenomena sejumlah titik tanah ambles. Hal itu dilakukan memberikan papan petunjuk dan menutupnya untuk mengantisipasi meluasnya tanah ambles saat musim hujan.

Kepala Pelaksana BPBD Gunung Kidul Edy Basuki mengatakan fenomena tanah ambles di Gunung Kidul muncul di beberapa titik pada awal Februari 2018, seperti di Kecamatan Rongkop ada 17 titik dengan diameter bervariasi dari mulai 2 meter hingga ada yang mencapai 7 meter.

“Fenomena alam tanah ambles di Gunung Kidul terjadi pada Februari 2018 lalu, saat musim hujan. Sampai saat ini belum ada penambahan, baik luasan maupun jumlahnya,” kata Edy di Gunung Kidul, Selasa (11/9).

Ia mengatakan tanah ambles di Rongkop itu dilaporkan mulai ada sejak akhir Januari lalu. Setelah terjadinya hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut. Selain Rongkop, sebelumnya juga dilaporkan ada empat lubang tanah ambles yang muncul di Kecamatan Ponjong.

Melansir dari republika, Edy mengatakan munculnya fenomena berupa tanah ambles itu juga sudah dikoordinasikan dengan Badan Geologi. Rekomendasinya agar tak ditutupi dengan sampah, melainkan memakai jerami. Selain itu juga diberi papan informasi terkait fenomena tanah ambles. “Selain jerami, kami juga memasang pengamanan berupa plastik,” kata dia.

Menurut dia, fenomena tanah ambles ini memang karakteristik Gunung Kidul yang merupakan pegunungan karst. Banyak cekungan atau celah tanah dan terdapat sungai bawah tanah.  “Tahun-tahun dulu juga ada peristiwa seperti ini. Hanya tidak banyak. Kalau orang-orang tua pasti tahu cekungan itu di mana saja,” ucapnya.

Kepala Desa Petir, Kecamatan Rongkop, Sarju mengatakan di desanya ada sekitar tujuh titik tanah ambles yang berada di lima dusun yakni, Dusun Siono, Dadapan, Ngurak-urak, dan Ngelo. Amblesan tanah terjadi pada akhir Januari lalu. Sebagian besar terjadi di tengah area ladang milik warga.

“Dampak dari munculnya lubang-lubang ini, sejumlah area persawahan milik para petani tidak dapat lagi ditanami. Kalaupun bisa ditanami, mereka takut menanaminya, karena khawatir lubang semakin membesar,” katanya.

Fenomena tersebut, menurut dia, terjadi dikarenakan geografis desanya yang merupakan daerah karst (batuan kapur). Di daerah tersebut, area bawah tanah memiliki rongga.

Untuk mengantisipasi lubang semakin besar, pihaknya mengimbau para petani untuk memasukkan tanah, jerami, pohon jagung, dan pohon pisang, bahkan sampah. “Agar tidak membesar kami sudah mengimbau agar petani memasukkan apapun ke dalam lubang,” katanya. (Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here