Mengapa Planet Berbentuk Bulat? Ini Penjelasannya

74

JAKARTA (Lumennews.id) – Kamu pasti tahu kalau seluruh planet di Tata Surya berbentuk bulat. Bahkan, yang berbentuk bulat tak cuma planet saja, tetapi Matahari dan Bulan pun berbentuk bulat. Lantas, tahukah kamu mengapa semuanya berbentuk bulat?

Dilansir Brilio via Universe Today, Sabtu (8/9), Tata Surya dibentuk dari nebula atau sebuah konsentrasi area yang berisikan gas dan debu kosmik.

Elemen tersebut juga kerap dijuluki dengan istilah ISM atau Instellar Medium. Gas dan debu kosmik ini tersebar di mana-mana dan akan berkumpul menjadi satu, pada sebuah gravitasi yang cocok dengannya.

Gas dan debu kosmik tersebut akan tertarik pada medan gravitas. Jadi, sebuah planet yang memiliki kandungan cairan akan tertarik ke pusat gravitasinya sebagai akibat gaya tarik gravitasi.

Planet terbentuk dari kumpulan gas panas yang kemudian menyusut. Tarikan gravitasi antar unsur-unsur pembentuk benda angkasa itu membuatnya berbentuk bulat, karena bentuk bulat adalah bentuk di mana semua unsur bisa sedekat mungkin dengan pusat gravitasi.

Proses tarikan inilah yang memaksa sebuah planet untuk berbentuk bulat dengan menarik semua massa mendekat dengan pusat gravitasi. Proses ini disebut dengan isostatic adjustment atau penyesuaian isostatik.

Besar kecilnya planet tersebut tergantung dengan seberapa besar gaya gravitasi yang menariknya.

Jupiter memiliki gaya gravitasi paling besar, sehingga ukuran planetnya pun menjadi yang paling besar.

Benda-benda yang lebih kecil, seperti beberapa asteroid dan meteoroid, tidak memiliki bentuk bulat karena gravitasi internal mereka tidak cukup besar. Sehingga bentuknya pun tidak beraturan. Begitu kira-kira penjelasan singkatnya.

Planet Venus adalah salah satu planet terdekat dengan Bumi. Bahkan, planet kuning tersebut sempat melintasi Bumi dari orbit terdekat pada 2015.

Namun, jauh sebelum Venus mendekati Bumi, planet tersebut rupanya sempat melintasi Matahari.

Perlintasan Venus di depan Matahari memang terbilang sangat jarang, yakni hanya terjadi dua kali setiap 115 tahun.

Bahkan, transit Venus dapat terjadi delapan tahun kemudian setelah terjadinya transit pertama.

Laman CNET, Rabu (5/9) melaporkan, transit terbaru Venus di Matahari terjadi pada Juni 2012.

SAAN lewat publikasi paper Nature Communications, menjelaskan bagaimana transit tersebut bisa terjadi dengan menggunakan gambar penampakan Venus yang melintasi matahari untuk mengkaji atmosfer planet.

Ini merupakan pertama kalinya Venus melintas di depan Matahari sejak peluncuran Solar Dynamics Observatory pada 2010 dan Jobservatorium surya Hinode JAXA-NASA pada 2006.

Gambar perlintasan Venus di depan Matahari tersebut memiliki resolusi yang begitu tinggi. Tampak seakan-akan planet tersebut hadir di depan matahari dan “terbakar” oleh warnanya yang begitu mencolok.

Gambar tersebut diyakini dapat mempermudah tim peneliti untuk mempelajari komposisi atmosfer Venus. Serupa dengan Bumi dan Mars, lapisan atmosfer Venus dapat menyerap cahaya yang berbeda.

Matahari memiliki kemampuan untuk memancarkan cahaya di setiap panjang gelombang dari spektrum elektromagnetik.

Hal ini tentunya dapat membuat para ilmuwan mampu menganalisis gambar untuk menentukan filter bagaimana cahaya mampu menembus setiap lapisan atmosfer Venus dan dapat memastikan kandungan molekul dan atom secara akurat.

Tim peneliti berpendapat, ukuran Venus muncul justru untuk menggantikan sebagai cahaya atmosfer.

Dengan mengukur perubahan ukuran Venus di berbagai panjang gelombang yang hadir, tim ilmuwan yang dipimpin Fabio Reale dari University of Palermo di Italia ini mampu menghitung komposisi atmosfer Venus.

Tentunya, informasi itu akan menjadi sangat penting dan mempermudah misi NASA ke Venus.

“Mempelajari lebih lanjut tentang komposisi atmosfer sangatlah penting untuk memahami proses pengereman pesawat luar angkasa ketika mereka hendak memasuki bagian atas atmosfer planet, dan proses tersebut disebut sebagai aerobraking,” tutur Reale.

Selain itu, penelitian ini juga memungkinkan tim untuk melihat apakah suasana dapat berubah ketika Matahari terbit dan Matahari terbenam.

Letak Venus yang berada di antara Bumi dan Matahari, kemungkinan tim peneliti hanya dapat melihat sisi malam planet.

Planet Venus selama dua tahun terakhir memang menjadi salah satu fokus utama para ilmuwan. NASA bahkan telah mengumumkan planet yang identik dengan warna jingga ini menjadi salah satu misi utama yang akan dilaksanakan mulai 2018.

Badan Antariksa Amerika Serikat tersebut sebetulnya juga telah menjabarkan detail misi Venus di gelaran Discovery Program Mission pada awal 2017.

Namun hingga kini, belum banyak informasi yang bisa diungkap dari Venus. NASA bahkan sebelumnya sempat menyatakan bahwa sebetulnya Venus memiliki lingkungan yang ‘tak ramah’.

Namun pada 2018, ada sebuah ramalan yang mengungkap bahwa Venus akan kembali diteliti oleh para ilmuwan. Ramalan tersebut memprediksi ilmuwan akan menemukan bentuk energi baru dari Venus pada tahun depan.

Ramalan ini sebetulnya sudah dilontarkan sejak 1996 oleh peramal buta asal Bulgaria, Baba Vanga. Kala itu, Baba Vanga meramal akan ada dua peristiwa besar yang terjadi pada 2018.

Menurut informasi yang dilansir Newsweek pada Selasa (2/1), dua peristiwa penting itu meliputi ramalan soal Tiongkok yang akan menjadi negara adidaya yang menggantikan Amerika Serikat, serta bentuk energi baru yang akan ditemukan ilmuwan dari Venus. (lip6/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here