Ngaku Dijebak Meteran PLN, Pelanggan Mengeluh

72
Kantor PLN Rayon Medan Satria, Kota Bekasi.

KOTA BEKASI (Lumennews.id) – Perusahaan Listrik Negara  (PLN) di komplain warganya yang merasa tidak puas atas pelayanan PLN. Hal tersebut terjadi lantaran warga merasa terjebak oleh meteran milik PLN area Medan Satria, Kota Bekasi. Keluhan warga Kaliabang yang masuk area PLN Medan Satria merasa keluhannya kepada PLN tidak mendapatkan tanggapan.

Salah satu warga Kaliabang bernama Suwandi mengaku dijebak dalam meteran PLN di tempat tinggalnya. Ia menuturkan dirinya pernah mengadukan keluhan kepada PLN terkait dengan meteran listrik yang terbakar, namun tidak mendapatkan tindak lanjut.

“Beberapa tahun silam, saya lupa waktunya, meteran saya terasa bau gosong, dari pada nanti terjadi kebakaran besar, saya laporkan beberapa kali ke PLN karena lama tak kunjung datang, padahal ini kan berbahaya, saya merasa PLN Medan Satria tidak tanggap,” ungkap Suwandi saat konferensi pers, Sabtu (15/9).

Setelah beberapa kali pelaporan dan tak kunjung datang, kata dia, pelaporan yang terakhir ia datang dengan marah. “Baru mereka datang ke rumah saya untuk mengganti meterannya,” tambahnya.

Suwandi mengatakan, setelah beberapa tahun pasca penggantian meteran yang mengalami kebakaran, pada hari Senin tanggal 10 September 2018 lalu, rumahnya didatangi oleh petugas yang mengaku dari PLN atas nama R. Edi. P dan Sofyan Haromea, dan menyatakan ditemukannya pelanggaran meteran miliknya.

“Hanya ada istri saya saat itu, mereka (petugas PLN) bilang, adanya pelanggaran yang kita lakukan, kita menggunakan lebih dari kapasitas kita. Lalu istri saya disuruh petugas PLN tanda tangan untuk penggantian meteran. Saat saya datang dan lihat suratnya ternyata isinya pelanggaran dan harus bayar denda,” ungkapnya kepada awak media dengan marah.

Ia mengatakan adanya pembohongan publik atas tindakan petugas PLN Medan Satria, karena meminta istrinya untuk tanda tangan penggantian watt dan tapi ternyata adalah persetujuan menerima denda dan di haruskan mengakui kesalahan karena melakukan pelanggaran.

“Istri saya saat ditemui petugas PLN itu sedang suapin makan cucunya, istri saya menyatakan tidak fokus memperhatikan petugas itu, itu segel dicopot mereka atau tidak, diganti apanya atau tidak, istri saya tidak paham, yang jelas istri saya di suruh tanda tangan karena mau tambah watt bukan karena pelanggaran yang di layangkan,” terangnya.

Suwandi menyatakan tidak pernah melakukan perubahan meteran yang dimilikinya, dirinya merasa dijebak oleh pihak PLN Medan Satria.

“Pasca kebakaran meteran itu, saya tidak pernah kutak kutik meteran, kalau mereka bilang saya ganti meteran, berarti dahulu petugasnya yang mengganti meteran saya mencoba menjebak saya dengan yang mungkin lebih tinggi, sehingga saya harus kena denda saat ini,” katanya.

Suwandi mengatakan, penggunaan listrik di rumahnya sejak puluhan tahun baik sebelum kebakaran maupun sesudah diganti meteran pasca kebakaran, masih tetap sama yaitu TV 1, Kulkas 1, Kipas Angin, Lampu, dan cas handphone serta laptop (jarang-jarang).

Pihak PLN saat di temui awak media terkesan acuh, tidak mempedulikan masyarakat sebagai pelanggan, dan saat ingin dikonfirmasi ke pihak Manager Ibu Murti Ningrum, awak media mendapatkan hal yang tidak enak dengan manager PLN Medan Satria tersebut dengan cara marah-marah dengan awak media dan bernada tinggi, seolah tidak mau di konfirmasi perihal keluhan Masyarakat. (mam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here